Sabtu, 15 Maret 2014

Sinopsis Novel Surat Dahlan

Penulis: Khrisna Pabichara
Penerbit: Noura Books (PT Mizan Publika) 
Tahun Pertama Terbit: 2013
Jumlah Halaman: 378



Bagi setiap perantau sepertiku, rindu adalah hantu yang paling menakutkan. Tak ada yang tahu bagaimana ia mendatangiku setiap waktu.… begitu menyiksa, menggeretakkan tulang-tulang ketabahan.



Kalimat indah di atas merupakan penggalan perasaan Dahlan muda yang merindu keluarga di tengah perantauannya di Samarinda, Kalimantan. Dahlan memang melanjutkan kuliahnya di kota tersebut. Ia ingin membahagiakan Ayahnya juga menganggupi keinginan Aisa agar mereka kelak bertemu setelah berhasil meraih gelar sarjana. Dahlan menlanjutkan kuliah di PTAI Samarinda. Sebuah tempat yang tadinya ia anggap akan mengisi pengetahuan ke kepalanya. Tapi harapan Dahlan jauh meleset. Ia merasa apa yang diajarkan di kampusnya hanya sekedar teori. Karena sering merasa bosan, ia kemudian lebih sering meninggalkan kelas dan memilih pergi ke ruangan Pelajar Islam Indonesia (PII). Ia memang sangat aktif di organisasi tersebut.


Selain di PPI, Dahlan juga aktif di media kampus. Ia sering menulis sejumlah kritik pedas yang ia tujukan pada punggawa kampus. Sampai suatu hari, sepak terjangnya dipangkas habis-habisan dengan adanya larangan terbit bagi majalah tempat ia sering menuliskan idenya. Namun hal tersebut tidak menyrutkan tekad Dahlan untuk bersuara terhadap kejanggalan yang ada di sekelilingnya. Seiring berjalannya waktu, masa pemerintahan Orde Baru semakin membuat mahasiwa gerah. Dahlan dan sejumlah temannya yang tergabung dalam PPI kemudian mengadakan demo besar-besaran. Sayangnya, alih-alih didengar pemerintah, mereka malah dijadikan buronan dan dikejar-kejar tentara.

Dahlan bersusah payah menghindari kejaran tentara. Ia sampai harus terperosok ke dalam jurang. Namun ia selamat dan ditampung oleh perempuan tua yang panggil Nenek Saripa. Selama masa persembunyiannya, Dahlan memilih tinggal bersama perempuan renta baik hati tersebut. Pada masa inilah takdir mempertemukan ia dengan Sayid yang kemudian menawarkan Dahlan untuk bekerja sebagai wartawan di Mimbar Masyarakat.

Seiring keadaan politik yang membaik, status Dahlan sebagai buronan pun dihapuskan. Tapi masalah kembali menyapanya. Namun kali ini ia harus menyelesaikan masalah hatinya. Antara mengejar cinta pertamanya si Aisa, atau menerima pinangan temannya bernama Maryati atau memilih cinta baru seorang gadis yang baru dikenalnya, Nafisa. Pergulatan waktu akhirnya membawa Dahlan pada jodoh sejatinya, yakni Nafisa. Mereka akhirnya menikah dan memiliki beberapa orang anak.

Kesuksesan Dahlan mulai berdatangan sedikit demi sedikit. Perjalanan karirnya membawa ia bertualang dari Mimbar Rakyat ke Tempo dan bermuara di Jawa Pos. Semua ia jalani dengan sungguh-sungguh. Dan akhirnya, ia berhasil membuktikan pada ayahnya bahwa ia bisa menjadi seseorang yang sukses.

Novel Surat Dahlan ini sangat bagus untuk dihadiahkan bagi mereka yang sedang gigih memperjuangkan cita-cita mereka serta meneguhkan diri untuk tetap berbuat di jalan yang lurus meski banyak halangan yang menghadang. Kisah Pak Dahlan ini layak dijadikan contoh bagi generasi muda kita. Meski penulisan novel ini dibarengi isu politik yang kurang sedap, namun dari segi cerita, bagaimanapun buku ini layak untuk dibaca dan dipetik hikmatnya.

0 komentar:

Posting Komentar